Sabtu, 30 November 2013

muntah gumoh


BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Pertumbuhan dan perkembangan bayi periode neonatal merupakan periode yang paling kritis sehingga diperlukan pemantauan pada bayi baru lahir. Tujuan pemantauan bayi baru lahir adalah untuk mengetahui aktivitas bayi normal atau tidak dan identifikasi masalah kesehatan bayi baru lahir yang memerlukan perhatian keluarga dan penolong persalinan serta tindak lanjut petugas kesehatan.
Dengan pemantauan neonatal dan bayi, kita dapat segera mengetahui masalah-masalah yang terjadi pada bayi sedini mungkin. Contoh masalah pada bayi yang sering kita temui yaitu muntah dan gumoh. Jika salah satu dari masalah tersebut tidak segera diatasi maka bisa menyebabkan masalah atau komplikasi lainnya. Namun, tak semua masalah tersebut harus mendapat penanganan khusus karena bisa membuat dampak negatif pada pertumbuhan dan perkembangan bayi. Ada masalah yang seharusnya dibiarkan saja karena masalah tersebut bisa menghilang dengan sendirinya.
Muntah dan gumoh merupakan gangguan dalam sistem integument yaitu suatu gangguan yang berhubungan dengan jaringan penutup permukaan tubuh, seperti membran mukosa dan kulit, yang sering terjadi dan bersifat relatif ringan. Gangguan ani sering dialami oleh bayi dan anak. Meskipun sifatnya relatif ringan, apabila tidak ditangani secara serius, maka hal tersebut dapat memperburuk kondisi kesehatan bayi dan anak.
Gangguan tersebut sering terjadi akibat kurang terjaganya kebersihan bayi dan lingkungannya atau rendahnya pengetahuan orang tua mengenai perawatan bayi yang benar. Anak dari orang tua dengan tingkat sosial, ekonomi yang rendah maupun yang tinggi dapat mengalami gangguan integument, apabila orang tuanya tidak mengetahui bagaimana cara merawat bayi secara benar.
Oleh karena dalam makalah ini akan membahas muntah dan gumoh, serta penanganan yang sesuai agar tidak menimbulkan dampak lainnya. Diharapkan makalah ini dapat menambah pengetahuan tentang masalah pada bayi.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan muntah dan gumoh pada bayi ?
2.      Apa penyebab dari muntah dan gumoh pada bayi ?
3.      Apa tanda dan gejala dari muntah dan gumoh pada bayi ?
4.      Apa saja perbedaan muntah dan gumoh pada bayi?
5.      Bagaimana cara menangani, muntah dan gumoh pada bayi ?

C.     Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui pengertian dari muntah dan gumoh pada bayi.
2.      Untuk mengetahui penyebab dari muntah dan gumoh pada bayi.
3.      Untuk mengetahui perbedaan muntah dan gumoh pada bayi.
4.      Untuk mengetahui tanda dan gejala dari muntah dan gumoh pada bayi.
5.      Untuk mengetahui cara menangani, muntah dan gumoh pada bayi.























BAB II
PEMBAHASAN


A.    Muntah
1.      Definisi Muntah
Muntah adalah keluarnya kembali sebagian besar atau seluruh isi lambung yang terjadi secara paksa melalui mulut, disertai dengan kontraksi lambung dan abdomen (Markum:1991 dalam Asuhan pada Anak Dengan Gangguan Sistem Integument, 2005).
Muntah adalah keluarnya kembali sebagian besar atau seluruh isi lambung yang terjadi setelah makanan agak lama masuk kedalam lambung (Depkes RI). Muntah pada bayi merupakan gejala yang sering sekali dijumpai dan dapat terjadi berbagai gangguan.
Pada masa bayi, terutama masa neonatal, muntah jarang terjadi. Oleh karena itu, bila terjadi muntah maka harus segera dilakukan observasi terhadap kemungkinan adanya gangguan.

2.      Etiologi
Muntah bisa disebabkan karena adanya faktor fisiologis seperti kelainan kongenital dan infeksi. Selain itu muntah juga disebabkan oleh gangguan psikologis seperti keadaan tertekan atau cemas, terutama pada anak yang lebih besar.
Ada beberapa gangguan yang dapat diidentifikasi akibat muntah yaitu:
a.       Kelainan kongenital saluran pencernaan, iritasi lambung, atresia esofagus, atresia/stenosis, hirschsprung, tekanan intrakranial yang tinggi, cara memberi makan atau minum yang salah, dan lain-lain.
b.      Pada masa neonatus semakin banyak misalnya factor infeksi (infeksi traktus urinarius, hepatitis, peritonitis, dll)
c.       Gangguan psikologis, seperti keadaan tertekan atau cemas terutama pada anak yang lebih besar.

3.      Patofisiologi
Muntah merupakan respon refleks simpatis terhadap berbagai rangsangan yang melibatkan berbagai aktifitas otot perut dan pernafasan.
Proses muntah dibagi 3 fase berbeda, yaitu :
a.       Nausea (mual) merupakan sensasi psikis yang dapat ditimbulkan akibat rangsangan pada organ dan labirin dan emosi dan tidak selalu diikuti oleh retching atau muntah.
b.      Retching (muntah) merupakan fase dimana terjadi gerak nafas spasmodic dengan glottis tertutup, bersamaan dengan adanya inspirasi dari otot dada dan diafragma sehingga menimbulkan tekanan intratoraks yang negatif.
c.       Emesis (ekspulsi) terjadi bila fase retching mencapai puncaknya dan ditandai dengan kontraksi kuat otot perut, diikuti dengan bertambah turunannya diafragma disertai dengan penekanan mekanisme antirefluks. Pada fase ini, pylorus dan antrum berkontraksi, fundus dan esofagus berelaksasi dan mulut terbuka

4.      Manifestasi Klinis
Perlu dibedakan antara muntah medis dengan muntah yang memerlukan pertolongan bedah segera. Tanda akut abdomen seperti nyeri perut yang mendahului muntah dan/atau berlangsung selama lebih dari 3 jam, munah bercampur empedu, dan distensi abdomen merupakan petunjuk pertolongan bedah segera. Muntah dapat merupakan manifestsdi awal dari berbagai penyakit. Oleh karena itu, pendekatan untuk identifikasi masalah sangat penting, meliputi :
a.       Usia dan jenis kelamin
b.      Tentukan terlebih dahulu apa yang dihadapi (muntah/yang lain)
c.       Bagaimana keadaan gizi anak
d.      Adakah factor predisposisi
e.       Apakah ada penyakit yang menyerang anak secara interkuren
f.       Bagaimana bentuk (isi) muntahan, apakah seperti susu/makanan asal (tanda isi dari esofagus) atau telah merupakan susu yang telah menggumpal (isi lambung) atau mengandung empedu (isi duodenum), atau addakah darah.
g.      Apakah saat muntah berhubungan dengan saat makan atau minum.
h.      Apakah perubahan posisi tubuh mempengaruhi muntah.
i.        Informasi diet (kualitas, kuantitas, dan frekuensi makan) terutama untuk anak kecil
j.        Bagaimana teknik pemberian minum.
k.      Bagaimana kondisi psikososial di rumah

5.      Tanda dan Gejala
Ada beberapa gangguan yang dapat diidentifikasi akibat muntah, yaitu :
a.       Muntah terjadi beberapa jam setelah keluarnya lendir yang kadang disertai dengan sedikit darah. Kemungkinan ini terjadi karena iritasi akibat sejumlah bahan yang tertelan selama proses kelahiran. Muntah kadang menetap setelah pemberian makanan pertama kali.
b.      Muntah yang terjadi pada hari-hari pertama kelahiran, dalam jumlah banyak, tidak secara proyektif, tidak berwarna hijau, dan cenderung menetap biasanya terjadi sebagai akibat dari obstruksi usus halus.
c.       Muntah yang terjadi secara proyektil dan tidak berwarna kehijauan merupakan tanda adanya stenosis pylorus.
d.      Peningkatan tekanan intrakranial dan alergi susu.
e.       Muntah yang terjadi pada anak yang tampak sehat. Karena tehnik pemberian makanan yang salah atau pada faktor psikososial.

6.      Karakteristik Muntah
Muntah yang harus diwaspadai, antara lain :
a.       Muntah yang terus menerus dan tak membaik walaupun telah diobati. Sebab muntah bisa berlanjut dengan dehidrasi (kekurangan cairan) bayi menjadi lemas, bibir dan lidahnya kering, terlihat haus, jarang berkemih dan panas maka kemungkinan obstruksi esophagus.
b.      Muntah berwarna hijau, ini menandakan adanya kelaian pada saluran pencernaan, yaitu dibawah usus 12 jari kemungkinan obstruksi otot halus. Warna hijau berasal dari cairan empedu.
c.       Muntah disertai darah. Hal ini menandakan terjadi luka ditenggorokan akibat bayi sering muntah jika hanya berupa bercak darah. Tetapi jika darah cukup banyak, kemungkinan ada pembuluh darah yang pecah.
d.      Muntah akibat keracunan. Bayi mengalami muntah dan diikuti diare. Ini bisa terjadi bila pengasuh kurang menjaga kebersihan saat membuat minuman untuk bayi atau tidak steril. Selain menyebakan keracunan, keadaan ini bisa memicu infeksi saluran pencernaan.
e.       Muntah keluar seperti air mancur. Ini menunjukan adanya kelainan pada susunan saraf pusat di otak bayi. Kondisi ini biaanya terjadi setelah bayi jatuh.

7.      Pemeriksaan penunjang
a.       Analisis urin dan darah
b.      Foto polos abdomen maupun dengan kontras
c.       USG
d.      Pielografi intra vena atau sistogram
e.       Endoskopi dengan biopsi
f.       Monitoring pH esofagus
g.      Pemeriksaan psikiatri bila dijumpai kelainan tingkah laku

8.      Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi antara lain kehilangan cairan dan elektrolit, aspirasi isi lambung, malnutrisi dan gagal tumbuh, sindrom Mallory-Weiss (robekan pada epitel gastroesophageal junction akibat muntah yang berulang), sindrom Boerhave (rupture esofagus) dan esophagitis peptikum.

9.      Pencegahan
a.       Perlambat pemberian susu. Bila diberi susu formula, beri sedikit saja dengan frekuensi agak sering.
b.      Sendawakan bayi selama dan setelah pemberian susu. Bila bayi diberi ASI, sendawakan setiap kali akan berpindah ke payudara lainnya.
c.       Susui bayi dalam posisi tegak lurus, dan bayi tetap tegak lurus selama 20-30 menit setelah disusui.
d.      Jangan didekap atau diayun-ayun sedikitnya setengah jam setelah menyusu.
e.       Jika diberi susu botol, pastikan lubang dot tidak terlalu kecil atau terlalu besar.

10.  Penatalaksanaan
a.       Cepat miringkan tubuhnya, atau diangkat ke belakang seperti disendawakan atau ditengkurapkan agar muntahannya tak masuk ke saluran napas yang dapat menyumbat dan berakibat fatal.
b.      Jika muntahnya keluar lewat hidung, orang tua tidak perlu khawatir. Bersihkan saja segera bekas muntahnya. Justru yang bahaya bila dari hidung masuk lagi terisap ke saluran napas. Karena bisa masuk ke paru-paru dan menyumbat jalan napas. Jika ada muntah masuk ke paru-paru tak bisa dilakukan tindakan apa-apa, kecuali membawanya segera ke dokter untuk ditangani lebih lanjut.

B.     Regurgitasi (gumoh)
1.      Definisi
Regurgitasi adalah keluarnya kembali sebagian susu yang telah ditelan melalui mulut dan tanpa paksaan, beberapa saat setelah minum susu (Depkes 2007). Gumoh adalah keluarnya kembali sebagian susu yang telah ditelan ketika beberapa saat setelah minum susu botol/ menyusui dan dalam jumlah sedikit. (Depkes 2007).
Regurgitasi yang tidak berlebihan merupakan keadaan normal terutama pada bayi dibawah usia 6 bulan dan tidak sering frekuensinya. Seiring dengan bertambahnya usia diatas 6 bulan, maka regurgitasi semakin jarang dialami oleh anak. Namun, regurgitasi dianggap abnormal apabila terjadi terlalu sering atau hampir setiap saat. Juga kalau terjadinya tidak hanya setelah makan dan minum tapi juga saat tidur. Selain itu juga pada gumoh yang bercampur darah. Gumoh yang seperti ini tentu saja harus mendapat perhatian agar tidak berlanjut menjadi kondisi patologis yang diistilahkan dengan refluks esofagus.
Regurgitasi atau gumoh harus dibedakan dengan muntah. Bedanya dengan muntah, gumoh terjadi secara pasif. Artinya, tak ada usaha si bayi untuk mengeluarkan atau memuntahkan makanan atau minumannya (artinya: keluar sendiri). Si bayi ketika gumoh mungkin saja sedang santai dalam gendongan atau dalam keadaan berbaring atau bermain. Sedangkan muntah terjadi secara aktif. Muntah merupakan aksi reflek yang dikoordinasi medula oblongata, sehingga isi lambung dikeluarkan dengan paksa melalui mulut.

2.      Etiologi
Ada beberapa penyebab terjadinya regurgitasi :
a.       Anak/bayi yang sudah kenyang.
b.      Posisi anak atau bayi yang salah saat menyusui akibatnya udara masuk kedalam lambung.
c.       Terburu-buru atau tergesa-gesa dalam menghisap.
d.      Kegagalan mengeluarkan udara.
e.       ASI atau susu yang diberikan melebihi kapasitas lambung. Lambung yang penuh juga bisa membuat bayi gumoh. Ini terjadi karena makanan yang terdahulu belum sampai keusus, sudah diisi makanan lagi. Akibatnya bayi muntah lambung bayi punya kapasitas sendiri.
f.       Posisi Menyusui
1)      Sering ibu menyusui sambil tiduran dengan posisi miring sementara si bayi tidur terlentang. Akibatnya, cairan tersebut tidak masuk ke saluran pencerna, tapi kesaluran nafas, bayipun gumoh.        
2)      Pemakaian bentuk dot
Jika si bayi suka dot besar diberi dot kecil, ia akan malas menghisap karena lama. Akibatnya , susu tetap keluar dari dot dan memnuhi mulut bayi dan lebih banyak udara yang masuk. Udara masuk kelambung membuat bayi muntah
g.      Klep penutup lambung belum berfungsi sempurna       
Dari mulut, susu akan masuk kesaluran pencernaan atas, baru kemudiaan ke lambung, diantara kedua organ tersebut terdapat klep penutup lambung, pada bayi, klep ini biasanya belum berfungsi sempurna.
h.      Fungsi pencernaan bayi dengan peristaltik ( gelombang kontraksi pada dinding lambung dan usus) untuk makanan dapat masuk dari saluran pencernaan ke usus, masih belum sempurna
i.        Terlalu aktif
Misalnya pada saat bayi menggeliat atau pada saat bayi terus menerus menangis hal ini akan membuat tekanan didalam perutnya tinggi, sehingga keluar dalam bentuk muntah/ gumoh.

3.      Patofisiologi
Biasanya bayi mengalami gumoh setelah diberi makan. Selain karena pemakaian gurita dan posisi saat menyusui, juga karena ia ditidurkan telentang setelah diberi makan. Cairan yang masuk di tubuh bayi akan mencari posisi yang paling rendah. Bila ada makanan yang masuk ke Esofagus atau saluran sebelum ke lambung, maka ada refleks yang bisa menyebabkan bayi gumoh.
Pada keadaan gumoh, biasanya lambung sudah dalam keadaan terisi penuh, sehingga terkadang gumoh bercampur dengan air liur yang mengalir kembali ke atas dan keluar melalui mulut pada sudut-sudut bibir. Hal tersebut disebabkan karena otot katup di ujung lambung tidak bisa bekerja dengan baik. Otot tersebut seharusnya mendorong isi lambung ke bawah.
Lambung yang penuh juga bisa membuat bayi gumoh. Ini terjadi karena makanan yang terdahulu belum sampai ke usus, sudah diisi makanan lagi. Akibatnya bayi tidak hanya mengalami gumoh tapi juga bisa muntah. Lambung bayi punya kapasitasnya sendiri. Misalnya bayi umur sebulan, ada yang sehari bisa minum 100 cc, tapi ada juga yang 120 cc.

4.      Tanda dan Gejala
a.       Mengeluarkan kembali susu saat diberikan minum.
b.      Gumoh yang normal terjadi kurang dari empat kali sehari.
c.       Tidak sampai mengganggu pertumbuhan berat badan bayi.
d.      Bayi tidak menolak minum.

5.      Pencegahan
a.       Perbaiki teknik menyusui. Cara menyusui yang benar adalah mulut bayi menempel pada sebagian areola dan dagu payudara ibu.
b.      Berikan ASI saja sampai 6 bulan (ASI eksklusif). Pemberian makanan tambahan dibawah 6 bulan memperbesar resiko alergi, diare, obesitas serta mulut dan lidah bayi masih dirancang untuk menghisap, bukan menelan makanan.
c.       Beri bayi ASI sedikit-sedikit tetapi sering (minimal 2 jam sekali), jangan langsung banyak.
d.      Jangan memakaikan gurita tertalu ketat.
e.       Posisikan bayi tegak beberapa lama (15-30 menit) setelah menyusu
f.       Tinggikan posisi kepala dan dada bayi saat tidur.
g.      Jangan mengajak bayi banyak bergerak sesaat setelah menyusu.
h.      Jika gumoh di sebabkan oleh kelainan atau cacat bawaan segera bawa ke petugas medis agar mendapat penanganan yang tepat sedini mungkin.
i.        Apabila menggunakan botol, perbaiki cara minumnya. Posisi botol susu diatur sedemikian rupa sehingga susu menutupi seluruh permukaan botol dan dot harus masuk seluruhnya ke dalam mulut bayi.
j.        Sendawakan bayi sesaat setelah minum. Bayi yang selesai minum jangan langsung ditidurkan, tetapi perlu disendawakan dahulu terlebih dahulu. Sendawa dapat dilakukan dengan cara:
k.      Bayi digendong agak tinggi (posisi berdiri) dengan kepala bersandar dipundak ibu. Kemudian, punggung bayi ditepuk perlahan-lahan sampai terdengar suara bersendawa.
l.        Menelungkupkan bayi di pangkuan ibu, lalu usap/tepuk punggung bayi sampai terdengar suara bersendawa.

6.      Penatalaksanaan
a.       Bersikaplah tenang.
b.      Segera miringkan badan bayi agar cairan tidak masuk ke paru-paru (jangan mengangkat bayi yang sedang gumoh, karena beresiko cairan masuk ke paru-paru).
c.       Bersihkan segera sisa gumoh dengan tissue atau lap basah hingga bersih, pastikan lipatan leher bersih agar tidak menjadi sarang kuman dan jamur.
d.      Jika gumoh keluar lewat hidung, cukup bersihkan dengan cotton bud, jangan menyedot dengan mulut karena akan menyakiti bayi dan rentan menularkan virus.
e.       Tunggu beberapa saat jika ingin memberi ASI lagi. 

C.     Perbedaan Muntah dan Gumoh
Muntah harus dibedakan dengan regurgitasi. Pada regurgitasi, pengeluaran susu terjadi setelah minum susu. Hal ini dapat disebabkan karena kebanyakan minum atau kegagalan untuk mengeluarkan udara yang tertelan. Muntah merupakan aksi refleks yang dikoordinasi medulla oblongata, sehingga isi lambung dikeluarkan dengan paksa melalui mulut.

Ciri-ciri
Gumoh
Muntah
Volume cairan/makanan yang dimuntahkan
Sedikit (kurang lebih 10 cc). Berupa ASI yang sudha ditelan bayi.
Banyak (lebih dari 10 cc) atau susu formula dan makanan (pada bayi berusia di atas 6 bulan).
Cara keluar
Mengalir biasa dari mulut. Tidak disertai kontraksi otot perut.
·         Menyembur (seperti disemprotkan dari dalam perut). Disertai kontraksi otot perut.
·         Kadangkala juga keluar melalui lubang hidung.
Umur bayi
Kebanyakan terjadi pada bayi berumur beberapa minggu 2-4 bulan atau 6 bulan, dan akan hilang dengan sendirinya.
Tidak terjadi pada bayi baru lahir. Tapi bisa terjadi pada bayi berumur 2 bulan, dan dapat berlangsung sepanjang usia.
Arti
Proses alami dan wajar untuk mengeluarkan udara yang tertelan bayi saat minum ASI.
Bisa menjadi tanda adanya gangguan kesehatan atau ganggaun fungsi pad aorgan pencernaan bayi.
Penyebab
·         Bayi terlalu banyak minum ASI.
·         Saat bayi minum atau makan ada udara yang ikut tertelan.
·         Bayi gagal menelan, karena otot-otot penghubung mulut dan kerongkongan belum matang. Ini banyak terjadi pada bayi premature.
·         Ada kelainan pada sistem pencernaan bayi, mislanya kelainan katup pemisah lambung dan usus 12 jari. Cairan muntah biasanya berwarna hijau.
·         Ada infeksi atau luka, misalnya infeksi tenggorokan, yang kadang-kadang dpaat memicu bayi muntah. cairan muntah biasanya disertai bercak darah.
Cara mengatasi
Disendawakan setelah bayi menyusu.
Ditangani dokter sesuai penyebabnya.




BAB III
PENUTUP


A.    Kesimpulan
Muntah adalah keluarnya sebagian besar atau seluruh isi lambung yang terjadi setelah makanan masuk lambung agak lama, disertai kontraksi isi lambung dan abdomen. Gumoh adalah keluarnya kembali sebagian susu yang telah ditelan ketika beberapa saat setelah minum susu botol/ menyusui dan dalam jumlah sedikit.
Gumoh dan muntah sering kali terjadi hampir setiap pada bayi. Gumoh berbeda dengan muntah. Keduanya merupakan hal biasa (normal) dan tidak menandakan suatu hal yang serius yang terjadi pada bayi. Hanya sebagian kecil kasus muntah bayi (muntah patologis) yang menjadi induksi gangguan serius. Baik gumoh dan muntah pada bayi merupakan pengeluaran isi lambung. Bedanya gumoh terjadi seperti ilustrsi air yang mengalir ke bawah, bisa sedikit seperti meludah) atau cukup banyak. Bersifat pasif dan spontan. Sedangkan muntah lebih cenderung dalam jumlah banyak dan dengan kekuatan dan atau tanpa kontraksi lambung. Meskipun normal, gumoh yang berlebihan dapat menyebabkan berbagai komplikasiyang akan mengganggu pertumbuhan bayi.

B.     Saran
Hendaknya kita sebagai calon bidan dapat memahami muntah atau gumoh yang berlebih pada bayi yang mengarah pada hal patologis sehingga kelak dapat memberi pelayanan/asuhan kebidanan lebih baik lagi dengan memperhatikan perubahan-perubahan fisiologis yang terjadi. Semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk kita semua. Demi kesempurnaan makalah ini, kami mengharap kritik dan saran yang dapat membangun dari pembaca.







DAFTAR PUSTAKA


Mansjoer, Arif, dkk. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid 2. 2000. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta : Media Aesculapius.


Sudarti. 2010. Kelainan dan Penyakit pada Bayi dan Anak. Yogyakarta: Nuha Medika


Sudarti, Afroh Fauziah.2012. Asuhan Kebidanan Neonatus,Bayi dan Anak Balita. Yogyakarta: Nuha Medika


Rukiyah, Ai Yeyeh.2010. Asuhan Neonatus Bayi dan Balita. Jakarta


Nur Muslihatun, Wafi.2010. Asuhan Neonatus Bayi dan Balita. Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar